Bagaimana Offline Travel Agent Bisa Bertahan dan Bersaing dengan OTA di Era “Bakar Uang”
Dalam satu dekade terakhir, Online Travel Agent (OTA) telah mengubah lanskap industri pariwisata secara drastis.


Dalam satu dekade terakhir, Online Travel Agent (OTA) telah mengubah lanskap industri pariwisata secara drastis. Dengan strategi “bakar uang”, diskon masif, dan teknologi canggih, OTA berhasil merebut pangsa pasar yang sebelumnya didominasi oleh travel agent offline.
Namun, di balik dominasi digital tersebut, muncul paradoks yang menarik: semakin digital industri travel, semakin bernilai peran manusia.
Offline travel agent (TA) yang selama ini dianggap kalah sebenarnya memiliki aset strategis yang tidak dimiliki OTA: kepercayaan, hubungan personal, dan kemampuan konsultasi kompleks. Tantangannya bukan bertarung di harga, melainkan mendefinisikan ulang posisi bisnis mereka.
Mengapa Offline Travel Agent Tidak Bisa Bersaing di Harga (dan Tidak Perlu)
OTA memiliki tiga keunggulan struktural yang hampir mustahil dikalahkan oleh offline TA:
Modal ventura besar untuk subsidi harga
Skala global dengan kontrak langsung ke hotel dan maskapai
Teknologi otomatis yang menekan biaya operasional
Artinya, perang harga adalah perang yang sudah kalah sebelum dimulai. Namun, harga bukan satu-satunya faktor keputusan pembelian.
Untuk segmen tertentu, keamanan, kepercayaan, dan kemudahan komunikasi jauh lebih penting daripada diskon. Di sinilah offline travel agent harus bermain.


Strategi Bertahan dan Bersaing bagi Offline Travel Agent
1. Transformasi dari Penjual Tiket menjadi Travel Consultant
Offline TA harus berhenti menjual produk standar yang bisa dibeli di OTA.
Sebaliknya, posisikan diri sebagai:
Travel consultant
Trip designer
Corporate travel advisor
Destination expert
Nilai jualnya bukan tiket, tetapi keahlian dan solusi.
2. Fokus ke Segmen yang OTA Sulit Layani
OTA unggul di transaksi mass market, tetapi lemah di segmen kompleks:
Segmen premium dan kompleks:
Corporate travel (perusahaan)
Group tour (MICE, sekolah, komunitas)
Luxury travel
Umrah & religi
Custom itinerary
Travel insurance & visa assistance
Multi-destination trip kompleks
Segmen ini membutuhkan human touch, bukan sekadar aplikasi.
3. Bangun Relationship, Bukan Transaksi
OTA memenangkan transaksi, tapi offline TA bisa memenangkan lifetime customer value.
Strategi yang efektif:
Dedicated account manager untuk klien korporasi
WhatsApp concierge travel service
After-sales support (rebooking, refund, crisis handling)
Loyalty program berbasis hubungan, bukan poin
Saat terjadi flight delay, visa issue, atau emergency, OTA adalah chatbot—offline TA adalah manusia.
4. Hybrid Digital: Offline dengan Teknologi
Offline TA tidak boleh anti digital. Model terbaik adalah phygital (physical + digital).
Contoh implementasi:
Booking melalui WhatsApp automation
CRM customer database
Website quotation system
Payment link & installment
AI untuk itinerary design
Email newsletter & funnel marketing
Offline TA yang digitalized = boutique OTA dengan layanan personal.


Model Bisnis yang Cocok untuk Offline Travel Agent
Model 1: Corporate Travel Management Company (TMC)
Target: perusahaan dan organisasi
Sumber revenue:
Service fee per transaksi
Monthly retainer
Travel policy consulting
Data analytics & reporting
Ini model paling stabil dan scalable.
Model 2: Luxury & Custom Travel Designer
Target: high-net-worth individuals (HNWIs)
Produk:
Private jet, villa, yacht charter
Hotel Booking
Bespoke itinerary
Private guide & concierge
Wedding & honeymoon luxury
Revenue model:
Markup premium
Design fee itinerary
Commission supplier luxury
Margin bisa 10–50x dibanding tiket economy.
Model 3: Group & Community Travel Organizer
Target: sekolah, universitas, komunitas, corporate outing
Keunggulan offline:
Handling logistics
Risk management
Contract negotiation
Tour leader & onsite handling
OTA hampir tidak bisa masuk ke bisnis ini secara efektif.


Masa Depan Offline Travel Agent
Offline travel agent tidak akan punah—tetapi akan berevolusi.
OTA akan tetap dominan di:
Tiket murah
Hotel mass market
Solo traveler budget
Offline travel agent akan dominan di:
Corporate travel
Luxury travel
Group travel
Custom experience
Crisis & service handling
Industri akan terpolarisasi: mass automation vs premium human service.
Kesimpulan
Offline travel agent tidak bisa menang melawan OTA di perang harga—dan memang tidak perlu. Masa depan offline travel agent ada pada:
Konsultasi
Relationship
Customization
Premium service
Corporate & group market
Hybrid digital model
Travel agent yang bertahan bukan yang menjual murah alias bakar uang, tetapi menjual kualitas layanan.
sentrahotels.com
© 2001 - 2026 Sentra Holidays | All rights reserved.
B2B Hotel Reservation
Ruko Cikawao Permai KAV B-10
Jl. Cikawao Permai
Bandung, West Java - Indonesia
087722389541
booking@sentraholidays.com
